
Disadari atau tidak, sebagian besar orang pasti telah akrab dengan sesuatu yang bernama perencanaan keuangan. Hal paling sederhana, misalnya, melakukan aktifitas perencanaan terkait pendapatan dan belanja bulanan. Aktifitas ini telah sangat biasa dilakukan baik oleh mereka yang masih lajang, apalagi bagi yang sudah berkeluarga. Tetapi apabila ditanya seberapa mantapkah perencanaan keuangan untuk jangka panjang, ternyata yang melakukannya belum terlalu banyak.
Masyarakat memang sudah semakin banyak yang memiliki rekening bank, namun sebatas untuk menyimpan tabungan yang tidak rutin, transaksi, atau untuk lewatnya gaji yang ditransfer dari kantor. Masyarakat juga semakin banyak yang memiliki asuransi, tetapi yang belum memilikinya lebih banyak lagi. Sehingga risiko terjadinya “bencana keuangan” pribadi atau individu sebenarnya sangat besar dan mungkin dialami oleh banyak orang.
Perencanaan keuangan, pada prinsipnya adalah aktifitas untuk membuat berbagai rencana pencapaian dalam kehidupan pribadi maupun keluarga yang dikaitkan dengan bagaimana membiaya (secara finansial) agar rencana tersebut dapat tercapai.
Misalnya, bagi yang masih lajang, membuat perencanaan keuangan terkait kebutuhan untuk menikah. Sementara bagi yang sudah berkeluarga tentu lebih kompleks lag i: Perencanaan keuangan terkait kelahiran anak, dana pendidikan putra putri, kepemilikan rumah, kendaraan, membangun usaha sendiri, dana pensiun, ibadah, liburan, kesehatan, dan sebagainya.




