Belakangan makin banyak saja orang yang terserang stroke. Namun kondisi ini tidak diimbangi dengan meluasnya pemahaman masyarakat tentang cara mengenali gejala dan menangani serangan stroke yang terjadi. Apalagi stroke tergolong momok karena sulit diprediksi kapan datangnya.
Stroke terjadi akibat gangguan suplai darah berisi glukosa dan oksigen ke susunan saraf pusat secara mendadak sehingga mengakibatkan kematian sel. Lalu kapan seseorang bisa terkena stroke?
"Ini berlangsung ketika vaskuler (pembuluh darah) seseorang mulai terjadi degenerasi," terang pakar stroke dari RSUD Dr Sardjito, Dr dr Ismail Setyopranoto Sp.S(K) dalam acara Bedah Buku 'Odem Otak pada Pasien Stroke Iskemik Akut' dan Workshop Pertolongan Serangan Stroke bagi Awam di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, seperti ditulis pada Jumat (6/12/2013).
Untuk pria kondisi ini biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun dan pada wanita di atas 55 tahun. Namun secara umum stroke kemungkinan baru benar-benar terjadi beberapa tahun kemudian, pada pria berkisar mulai usia 55 tahun dan pada wanita ketika usianya mencapai 65 tahun ke atas.
Namun walaupun sulit ditangani jika gejalanya kadung parah, sebenarnya penyakit ini dapat dicegah melalui pengenalan faktor risiko.
"Vascular events (kejadian kardiovaskular) pasti ada faktor risikonya. Jadi kalau kita punya hipertensi, obesity, kita harus aware bahwa kita bisa saja terkena stroke," tutur dr Ismail.
Yang dimaksudkan dr Ismail adalah faktor risiko yang dapat dikendalikan. Empat faktor risiko ini yang paling utama adalah kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes, obesitas di samping sejumlah kondisi lainnya yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Hal kedua yang perlu dilakukan adalah mengetahui gejala stroke. Menurut dr Ismail, gejala stroke ada beragam, mulai dari kelemahan anggota gerak atau motorik, kelemahan sensibilitas tubuh atau sensorik, mulut perot, bicara pelo (cadel), afasia atau tidak bisa bicara, penurunan kesadaran, gangguan fungsi kognitif misalnya tiba-tiba bingung atau intelijensianya menurun, dan dizziness atau pening.
"Ini (munculnya) bisa tunggal, bisa multiple (sekaligus). Kalau sudah muncul satu keluarga nggak usah pakai rapat dulu, langsung bawa ke rumah sakit," tegas dr Ismail.
Dalam hal ini dokter spesialis saraf tersebut berupaya menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan penanganan stroke adalah kecepatan. Idealnya, pasien segera dibawa ke rumah sakit tiga jam pasca serangan.(Sumber : http://health.detik.com)
Stroke terjadi akibat gangguan suplai darah berisi glukosa dan oksigen ke susunan saraf pusat secara mendadak sehingga mengakibatkan kematian sel. Lalu kapan seseorang bisa terkena stroke?
"Ini berlangsung ketika vaskuler (pembuluh darah) seseorang mulai terjadi degenerasi," terang pakar stroke dari RSUD Dr Sardjito, Dr dr Ismail Setyopranoto Sp.S(K) dalam acara Bedah Buku 'Odem Otak pada Pasien Stroke Iskemik Akut' dan Workshop Pertolongan Serangan Stroke bagi Awam di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, seperti ditulis pada Jumat (6/12/2013).
Untuk pria kondisi ini biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun dan pada wanita di atas 55 tahun. Namun secara umum stroke kemungkinan baru benar-benar terjadi beberapa tahun kemudian, pada pria berkisar mulai usia 55 tahun dan pada wanita ketika usianya mencapai 65 tahun ke atas.
Namun walaupun sulit ditangani jika gejalanya kadung parah, sebenarnya penyakit ini dapat dicegah melalui pengenalan faktor risiko.
"Vascular events (kejadian kardiovaskular) pasti ada faktor risikonya. Jadi kalau kita punya hipertensi, obesity, kita harus aware bahwa kita bisa saja terkena stroke," tutur dr Ismail.
Yang dimaksudkan dr Ismail adalah faktor risiko yang dapat dikendalikan. Empat faktor risiko ini yang paling utama adalah kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes, obesitas di samping sejumlah kondisi lainnya yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Hal kedua yang perlu dilakukan adalah mengetahui gejala stroke. Menurut dr Ismail, gejala stroke ada beragam, mulai dari kelemahan anggota gerak atau motorik, kelemahan sensibilitas tubuh atau sensorik, mulut perot, bicara pelo (cadel), afasia atau tidak bisa bicara, penurunan kesadaran, gangguan fungsi kognitif misalnya tiba-tiba bingung atau intelijensianya menurun, dan dizziness atau pening.
"Ini (munculnya) bisa tunggal, bisa multiple (sekaligus). Kalau sudah muncul satu keluarga nggak usah pakai rapat dulu, langsung bawa ke rumah sakit," tegas dr Ismail.
Dalam hal ini dokter spesialis saraf tersebut berupaya menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan penanganan stroke adalah kecepatan. Idealnya, pasien segera dibawa ke rumah sakit tiga jam pasca serangan.(Sumber : http://health.detik.com)





